Task : Ulangan TKA

 Soal untuk dikerjakan dan diposting pada blog masing-masing:


1. Sebut dan jelaskan macam-macam unsur intrinsik dan ekstrinsik dalam karya sastra!


2. Sebut dan jelaskan istilah-istilah yang terdapat pada:


      A. cerpen


      B. Drama


      C. Puisi


3. Jelaskan persamaan dan perbedaan pantun dengan syair!


4. Sebutkan majas-majas dalam bahasa Indonesia dengan pengertian dan contoh dalam kalimat!


Sumber soal:https://sbsinstrumens.blogspot.com/2025/10/soal-ulangan-1-materi-tka.html?m=1

Jawab :

1.Unsur Intrinsik dan Ekstrinsik adalah unsur unsur dalam karya sastra.

Yang pertama terlebih dahulu adalah arti dari Intrinsik dan Ekstrinsik itu sendiri.

Intrinsik adalah unsur unsur yang berada di dalam karya fiksi itu sendiri.

​Tema: Gagasan utama atau pokok cerita yang menjadi dasar pengembangan cerita.

​Tokoh dan Penokohan:
​Tokoh adalah pelaku yang berperan dalam cerita maupun karakter yang berada dalam cerita.

​Penokohan: Adalah penggambaran watak atau sifat karakter tokoh dalam cerita seperti ada watak tokoh yang seperti antagonis  biasanya mukanya seram maupun pakainnya bewarna gelap dan ada juga yang seperti protagonis yang biasanya wajahnya rupawan dan baju yang terang serta sifat-sifat mereka yang bermacam macam dan lain sebagainya.

​Latar (Setting): Gambaran mengenai tempat, waktu, dan suasana terjadinya peristiwa dalam cerita contohnya seperti cerita tersebut terjadi dalam masa atau zama kerajaan yang biasanya memasukkan unsur unsur kerajaan seperti kastil,putri,pangeran,raja,ratu dan lain sebagainya.

​Alur (Plot): Urutan kejadian atau rangkaian peristiwa yang disusun secara sistematis untuk membangun cerita. Biasanya meliputi tahapan: pengenalan, munculnya konflik, klimaks, antiklimaks, dan penyelesaian.

​Sudut Pandang: Posisi atau cara pandang pengarang dalam menyampaikan cerita kepada pembaca (misalnya, sudut pandang orang pertama, atau sudut pandang orang ketiga).

​Amanat: Pesan atau pelajaran moral yang ingin disampaikan pengarang kepada pembaca.

​Gaya Bahasa: Cara pengarang menggunakan bahasa dalam cerita, termasuk penggunaan majas atau diksi.

Unsur Ekstrinsik 

Unsur Ekstrinsik adalah unsur-unsur yang berada di luar cerita fiksi meliputi latar belakang sang penulis dan memengaruhi karya fiksi dari luar.

Unsur-unsur ekstrinsik yang umum meliputi:

​Latar Belakang Pengarang (Biografi)
​Meliputi riwayat hidup pengarang, pandangan hidup, keyakinan, pendidikan, kondisi psikologis, atau pengalaman pribadi pengarang yang memengaruhi isi cerita yang ditulisnya.

​Latar Belakang Masyarakat
​Mencakup kondisi sosial, ekonomi, politik, budaya, dan ideologi yang berlaku di masyarakat pada saat karya fiksi tersebut diciptakan atau diterbitkan. Kondisi ini sering kali menjadi inspirasi atau masalah yang diangkat dalam cerita.

​Nilai-Nilai yang Terkandung dalam Cerita

​Nilai-nilai universal yang memengaruhi cerita, seperti:

​Nilai Agama (hal-hal yang berkaitan dengan ajaran agama).

​Nilai Moral (etika, baik dan buruk, kejujuran, dll.).

​Nilai Sosial (interaksi antarmanusia, kondisi masyarakat).

​Nilai Budaya (adat istiadat, tradisi, kebiasaan).

Situasi Ekonomi dan Politik adalag keadaan politik dan ekonomi yang dapat memengaruhi alur cerita fiksi mamuoun konflik yang berada dalam cerita tersebut.Misalnya,seperti buku The Nightingale sangatlah berbeda dengan buku Detroit Become Human.




SOAL KE 2

Jawab:

A. Cerpen (Cerita Pendek)


​Tema: Gagasan utama atau ide pokok yang mendasari cerita.

​Tokoh: Pelaku yang diceritakan dalam cerita (Protagonis: tokoh utama yang baik; Antagonis: tokoh penentang).

​Penokohan: Cara pengarang menggambarkan dan mengembangkan karakter tokoh.

​Alur (Plot): Rangkaian peristiwa yang disusun berdasarkan hubungan sebab-akibat.

​Latar: Keterangan mengenai waktu, tempat, dan suasana terjadinya peristiwa dalam cerita.
​Sudut Pandang: Posisi pengarang dalam menyampaikan cerita (misalnya orang pertama atau orang ketiga).

​Amanat: Pesan moral atau pelajaran yang ingin disampaikan pengarang kepada pembaca.

​B. Drama


​Babak: Bagian besar dari keseluruhan lakon drama.

​Adegan: Bagian dari babak yang ditandai dengan perubahan suasana, tokoh, atau latar.

​Prolog: Kata-kata pembukaan atau pengantar cerita yang disampaikan sebelum drama dimulai.

​Dialog: Percakapan antar tokoh dalam drama.
​Monolog: Ucapan seorang tokoh kepada dirinya sendiri (berbicara sendiri).

​Epilog: Kata penutup yang disampaikan di akhir lakon, sering berisi kesimpulan.

​Sutradara: Orang yang bertugas mengarahkan pementasan drama.

​Aktor/Aktris: Orang yang memerankan tokoh dalam drama.

​Naskah Drama: Teks tertulis yang berisi dialog dan petunjuk pementasan.

​C. Puisi


​Bait: Kesatuan dalam puisi yang terdiri dari beberapa baris/larik, seperti paragraf.

​Larik/Baris: Deretan kata dalam puisi yang membentuk satu satuan.

​Diksi: Pilihan kata yang cermat dan padat makna oleh penyair.

​Rima: Pengulangan bunyi yang teratur dalam puisi, biasanya di akhir larik.

​Irama: Alunan bunyi yang teratur dan berulang, menciptakan musikalitas.

​Majas (Gaya Bahasa): Penggunaan bahasa kiasan untuk menciptakan kesan tertentu.

​Citraan (Imaji): Kata-kata yang menimbulkan efek gambaran indra pada pembaca.

​Penyair: Sebutan untuk orang yang menciptakan atau menulis puisi. 

Soal 3


Persamaan Pantun dan Syair:

​Pantun dan syair memiliki beberapa persamaan karena keduanya tergolong dalam jenis puisi lama. Persamaan-persamaan tersebut antara lain:

​Struktur Baris: Baik pantun maupun syair, umumnya setiap baitnya terdiri atas empat baris atau larik.

​Jumlah Suku Kata: Setiap baris pada pantun dan syair biasanya terdiri dari 8 hingga 12 suku kata.

​Keterikatan Irama/Rima: Keduanya terikat dengan irama sajak (rima).

​Jenis Puisi: Keduanya merupakan bentuk dari puisi lama atau puisi tradisional.

​Perbedaan Pantun dan Syair:
​Meskipun memiliki persamaan, ada beberapa perbedaan mendasar yang memisahkan pantun dan syair:

​Pola Sajak (Rima Akhir):
​Pantun umumnya memiliki pola sajak a-b-a-b (bersajak silang).

​Syair memiliki pola sajak yang sama, yaitu a-a-a-a (bersajak sama).

​Struktur Isi Bait:
​Pantun dibagi menjadi dua bagian: baris pertama dan kedua disebut sampiran (sebagai pengantar atau pembayang), sedangkan baris ketiga dan keempat merupakan isi (maksud atau pesan pantun). Sampiran dan isi biasanya tidak berhubungan langsung.

​Syair seluruh barisnya, yaitu baris pertama hingga keempat, merupakan isi atau maksud dari penyair. Syair tidak memiliki sampiran.
Kesatuan Makna:
​Pantun umumnya selesai dan memiliki makna utuh dalam satu bait saja.

​Syair maknanya seringkali berkesinambungan atau terikat dari satu bait ke bait berikutnya, membentuk satu kesatuan cerita atau narasi yang panjang.

​Asal Usul:

​Pantun merupakan puisi lama asli Indonesia/Melayu.

​Syair berasal dari tradisi Arab-Persia dan masuk ke Nusantara bersamaan dengan penyebaran Islam.


Soal 4


​Majas adalah gaya bahasa kiasan yang digunakan untuk memperindah atau memperkuat makna suatu kalimat.

​1. Majas Perbandingan
​Kelompok ini membandingkan dua objek atau gagasan yang berbeda.

​Metafora: Membandingkan dua hal secara langsung tanpa kata penghubung.

​Contoh: Ayah adalah tulang punggung keluarga.

​Simile (Perumpamaan): Membandingkan dua hal dengan kata penghubung seperti seperti, bagai, laksana.

​Contoh: Wajahnya bersinar seperti bulan purnama.

​Personifikasi: Memberi sifat-sifat manusia kepada benda mati atau makhluk non-manusia.

​Contoh: Angin menari-nari di padang rumput.

​Hiperbola: Melebih-lebihkan kenyataan untuk menciptakan efek dramatis.

​Contoh: Suara petasan memekakkan telinga.

​Eufemisme: Mengganti kata yang dianggap kasar atau kurang sopan dengan ungkapan yang lebih halus.

​Contoh: Ia sedang menjalani masa istirahat dari pekerjaannya.

​2. Majas Pertentangan

​Kelompok ini menggunakan kata atau ide yang bertolak belakang dengan kenyataan atau maksud yang ada.

​Litotes: Merendahkan diri atau merendahkan kenyataan, padahal maksudnya adalah kebalikannya, untuk bersikap rendah hati.

​Contoh: Silakan nikmati hidangan seadanya di gubuk kami.

​Paradoks: Mengandung pertentangan antara dua fakta yang berlawanan dalam satu kalimat, tetapi keduanya benar.

​Contoh: Dia merasa kesepian di tengah keramaian kota Jakarta.

​3. Majas Sindiran.

​Kelompok ini digunakan untuk menyatakan sindiran atau ejekan.

​Ironi: Sindiran halus dengan mengatakan hal yang berlawanan dengan maksud sebenarnya.

​Contoh: Rajin sekali kamu, tugas kuliah saja tidak pernah dikumpulkan.

​Sarkasme: Sindiran kasar yang dapat menyakiti hati dengan kata-kata yang keras dan tajam.

​Contoh: Dasar otak udang, hitungan sederhana seperti itu saja tidak bisa kamu kerjakan!

​4. Majas Penegasan

​Kelompok ini bertujuan untuk memperkuat atau menegaskan suatu pernyataan.
​Repetisi: Pengulangan kata atau frasa yang sama untuk penekanan.

​Contoh: Mari kita berjuang, mari kita berusaha, mari kita raih kemenangan ini.

​Pleonasme: Menggunakan kata-kata berlebihan yang sebenarnya sudah terkandung maknanya, untuk menegaskan.

​Contoh: Adik masuk ke dalam rumah sambil membawa mainan.

​Retorik: Pertanyaan yang tidak membutuhkan jawaban karena jawabannya sudah pasti atau hanya untuk memberikan penekanan.

​Contoh: Siapa yang tidak rindu dengan kampung halaman?



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Task:1 TEKS LAPORAN HASIL PERCOBAAN

Studytip Phyton